Refleksi 30 Tahun Tragedi Amarah: Menyuarakan Aspirasi Rakyat Tanpa Mengorbankan Hak Publik
Nalarsisa — Peringatan Tragedi Amarah (April Makassar Berdarah) 1996 kembali menjadi momentum penting bagi dunia kemahasiswaan untuk menilik sejauh mana kedewasaan kita dalam berpendapat di ruang publik. Sejarah mencatat bahwa niat mulia untuk membela kepentingan masyarakat harus senantiasa berjalan selaras dengan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat itu sendiri.
Tiga puluh tahun silam, gerakan mahasiswa di Makassar lahir dari kepedulian terhadap beban ekonomi rakyat akibat kenaikan tarif angkutan. Namun, peristiwa memilukan yang merenggut nyawa mahasiswa UMI kala itu menjadi pelajaran berharga bahwa eskalasi massa yang tidak terkendali dapat berujung pada kerugian besar bagi semua pihak.
Esensi Perjuangan: Membela, Bukan Menyulitkan
Dalam konteks demokrasi modern, kekuatan sebuah aspirasi tidak lagi diukur dari seberapa besar gangguan yang ditimbulkan di jalanan, melainkan dari seberapa kuat argumen dan dukungan simpati yang diraih dari publik. Menjaga agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tetap berjalan lancar saat menyampaikan pendapat adalah bentuk nyata dari intelektualisme mahasiswa.
Beberapa poin refleksi bagi gerakan mahasiswa masa kini meliputi:
- Prioritas Ketertiban Umum: Memastikan jalan raya tetap berfungsi bagi ambulan, pekerja, dan pedagang kecil adalah wujud nyata dari keberpihakan pada rakyat.
- Kedamaian Sebagai Fondasi: Menghindari provokasi dan tindakan anarkis yang hanya akan memicu respons represif dan mengancam keselamatan bersama.
- Dialog Konstruktif: Mengedepankan ruang-ruang diskusi formal yang lebih efektif dalam mencapai solusi tanpa harus menciptakan friksi di lapangan.
Menuju Aktivisme yang Simpatik
Tragedi 1996 mengajarkan bahwa ketika suasana damai hilang, maka substansi perjuangan sering kali terkubur oleh konflik. Menghormati peringatan Amarah berarti berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
Keberhasilan sebuah aksi adalah ketika tuntutan sampai ke pembuat kebijakan, sementara rakyat yang dibela tetap merasa aman dan nyaman menjalankan aktivitasnya. Dengan menjaga kedamaian, mahasiswa tidak hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga menunjukkan martabat sebagai calon pemimpin bangsa yang bertanggung jawab.